Cinta Sehidup Semati

Saya pikir cinta sehidup semati cuma ada dalam film atau sinetron. Lahhh ini ada di dunia nyata. Kisah cinta Vanessa Angel dan Febri Ardiyansah. Mereka meninggal berbarengan pada tanggal 4 November 2021 jam 12.34 Kecelakaan maut di ruas tol Jombang tepatnya di KM 672. Sebentar lagi Vanessa akan berulang tahun. Karena dia lahir tgl 21 Desember 1993.Tapi belum sempat merayakan ulang tahun ke 28 Tuhan keburu memanggilnya.

Febri Ardiyansah yang biasa dipanggil Bibi lahir pada tgl 26 Februari 1990. Berusia 31tahun pada saat kecelakaan. Tragisnya tangan kirinya sempat putus pada saat kecelakaan. Semoga mereka berdua ditempatkan di surgaNya Allah SWT, amin. Alfatihah buat mereka berdua.

Kalau saya boleh memilih saya akan berkata seperti ini, “Tuhan jangan panggil kami berbarengan, terserah Kamu mau aku dulu yang pergi atau pak suami. ” Lahhh, kalau dua duanya pergi siapa yang akan menjaga dua anak kami? Kedua orangtua saya sudah meninggal. Ibu mertua sibuk bekerja dan bapak mertua kerja di Kalimantan. Beliau cuma pulang setahun sekali ketika lebaran.

Jadi inget lirik lagunya Stefan Pasaribu seperti ini, “Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu, Belum sanggup untuk jauh darimu….Tuhan tolong mampukan aku tuk lupakan dirinya………… “

Kirana

images

Kirana namanya,umur sebelas tahun pada November nanti. Gadis kecil berkulit coklat,rambut sebahu dan mata bulat seperti Jasmine. Kirana teman sekelas Jasmine. Kirana sering main ke rumah untuk ngerjain pr bareng Jasmine,atau sekedar main game bareng di teras rumah. Siang tadi sekitar jam sebelas datanglah berita dukacita. “Mama ada berita dukacita,mamanya Kirana meninggal.”Jasmine memberitahuku dengan ekspresi sedih. “Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Kenapa?sakit apa?” “Katanya sakit typhus”.

Segera aku buka grup WA untuk mengetahui berita lebih lanjut. Grup WA penuh dengan ungkapan dukacita. Saat ini aku lagi berada di luar kota,tidak sempat takziah ke rumah Kirana. Hanya mengirimkan ungkapan dukacita melalui WA.

Aku seperti flashback ke puluhan tahun silam. Bapak kandungku meninggal di saat usiaku belum genap delapan tahun. Ketika bapak meninggal aku belum terlalu mengerti soal konsep kematian dan kehilangan. Saat itu ibu dan ketiga kakakku menangis tapi aku tidak. Entahlah mungkin saat itu aku berpikir bapak hanya tertidur dan pasti suatu saat akan bangun lagi.

“Selamat tinggal Ibu semoga tenang di sana” Itu status Kirana satu jam yang lalu. Status di WA dan ada foto mamanya ketika terbaring di rumah sakit. Saya sempat meneteskan airmata untuk sesaat,membayangkan puluhan tahun silam ketika saya ada di posisi Kirana. Saat ini ingin rasanya memeluk Kirana dengan kencang lalu bilang”yang sabar ya Nak,masih banyak yang sayang sama kamu.”

Kirana adalah anak pertama di keluarganya,sama seperti Jasmine. Kirana punya satu orang adik laki laki bernama Fatir. Fatir baru berumur lima tahun,belum terlalu mengerti kenapa mamanya pergi begitu cepat. Satu pesan yang penting di grup WA dari gurunya Jasmine,untuk selalu jaga kesehatan dan mendoakan keluarga Kirana.

Cuaca seharian ini panas sekali,tapi ketika sore mendung dan turun hujan. Kenapa ya kematian itu identik dengan turunnya hujan?Atau mungkin air hujan melambangkan air mata yang turun dari keluarga almarhumah.

Kita ga akan pernah tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah SWT,ga harus yang tua yang berangkat duluan. Random,terserah Sang Pencipta. Mamanya Kirana seumuran denganku,sempat berbincang sebentar ketika ada acara bukber di sekolah Jasmine. Hanya alfatihah yang bisa kukirimkan untuk beliau,semoga tenang di sana.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun.Allaahumma indaka ahtasibu mushiibati fa ajurnii fiiha wa abdilnii minhaa khairan(doa bagi keluarga yang mendapat musibah kematian).

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya. Ya Allah,dihadapanMu aku memperhitungkan musibahku,maka dari itu berilah aku pahala karena musibahku tadi dan berilah sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya.”

Ramadhan Kali Ini

Postingan ini saya tulis disaat menjelang makan sahur. Hari ini hari keempat puasa di bulan Ramadhan 2019. Mengutip surat Al Baqarah ayat 183:Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. Semoga saya dan kalian yang baca postingan ini termasuk orang orang bertakwa yang akan dimudahkan ketika akan masuk pintu surga,amin.

Ramadhan dan lebaran tahun ini tanpa sosok Mang Sidiq(adik ibu). Beliau meninggal dua bulan lalu karena sakit diabet. Karena sakit diabet yang bertahun tahun di tubuhnya dan sudah merusak fungsi ginjal. Meninggal di usia 50tahun. Mang Sidiq yang berkulit putih dan suka bicara ceplas ceplos. Mang Sidiq yang kalau ke rumah saya dari jarak sepuluh meter sebelum pintu rumah sudah terdengar assalamualaikum dengan nada yang keras. Mang Sidiq yang kalau setiap lebaran sibuk ngumpulin semua keponakan untuk bagi bagi duit. Mang Sidiq yang sering diledek “juragan sate” karena kebetulan punya lima warung sate di sekitar daerah Cijantung(Jakarta Timur).

Sejak menikah dengan istrinya yang berasal dari Madura Mang Sidiq sibuk berbisnis sate. Sate yang lumayan laku dan memiliki banyak pelanggan setia. Mang Sidiq yang biasanya beberapa hari sebelum lebaran sibuk jualan dodol Betawi. Mang Sidiq yang selalu saya hapal dengan motor bebek merahnya. Mang Sidiq yang suka bicara apa adanya kalo emang ga suka dengan seseorang tapi sebenarnya hatinya baik. Semoga beliau ditempatkan ditempat terbaik disisi Allah SWT,amin.

Agak mengerikan kalau saya membahas penyakit Diabetes Mellitus(DM). Penyakit yang sudah bertahun tahun ada di tubuh ibu saya. Karena diabet adalah ibu dari segala macam penyakit. Dari diabet bisa menyebabkan fungsi ginjal rusak,sakit jantung,paru paru,kerusakan pada mata atau seperti ibu saya pengapuran tulang kaki sebelah kanan.

Ketika gula darah ibu saya mencapai angka 550 beliau sempat dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Gejalanya lemas tak bertenaga,sering buang air kecil dan rasa haus yang terus menerus. Setiap bulan ibu saya rutin berobat ke dokter penyakit dalam(poli endokrin) sekaligus berobat ke dokter orthopedi.

Suntikan insulin sebanyak tiga kali sehari dengan dosis di angka sepuluh cukuplah membuat ibu saya dikategorikan penyandang penyakit akut.

Bedanya dulu Mang Sidiq rajin berobat ke pengobatan alternatif sementara ibu saya rajin berobat ke dokter spesialis dengan kartu BPJS. Saya tidak ingin menyalahkan pengobatan alternatif,tapi alangkah bijak jika kita lebih mengutamakan medis kedokteran. Karena ilmu medis kedokteran bersifat ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan untuk kesembuhan pasien.

Di ramadhan kali ini saya selalu berdoa semoga ibu sehat selalu. Dan semoga saya dijauhkan dari segala macam penyakit terutama sakit Diabetes Mellitus(DM). Ramadhan kali ini saya belajar lagi tentang arti kehilangan. Arti kehilangan yang membuat saya semakin ingat tentang kematian. Ramadhan kali ini semoga saya bisa melaluinya dengan baik,amin.