Tiga Anak Penurut

Anak yang pertama,Adisti namanya. Berusia 12 tahun, kelas 6 SD. Anak yang kedua bernama Alvin, berusia 10 tahun. Kelas 4 SD. Anak yang ketiga bernama Tristan, berusia tujuh tahun. Kelas 1 SD. Mereka bersama ibunya mengontrak sebuah rumah kecil berukuran 7X5 meter.

Ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu, karena kecelakaan lalu lintas. Adisti setiap pagi sibuk mencuci baju baju adik dan ibunya. Sibuk memasak dan membersihkan rumah. Ibunya bekerja di sebuah pabrik. Pergi pagi pulang malam. Kadang jika tidak lembur, ibunya pulang jam enam sore. Tapi lebih sering lembur.Tujuannya untuk menambah penghasilan.

Adisti berparas cantik, dengan rambut sebahu dan kulit putih. Kalau berjalan lebih sering menunduk daripada mendongakkan kepalanya. Padahal wajahnya cantik, harusnya dia lebih percaya diri. Aku jarang melihatnya, kecuali ketika dia menjemur baju depan rumah. Atau ketika ke warung membeli jajanan untuk adik adiknya.

Alvin memiliki paras seperti orang China, dengan rambut cepak dan sedikit poni. Hobinya bersepeda. Tak lupa, ketika dia bersepeda dibawa serta adiknya. Sepeda BMX warna hitam, tidak memiliki bangku belakang tapi memiliki jalu. Jadi ketika dibonceng, Tristan dalam kondisi berdiri. Tristan cenderung lebih gendut dibanding kakaknya. Dia sering berteriak ketika dibonceng kakaknya,”Abang jangan ngebut,aku takut.”

Potret keluarga sederhana di sekitarku. Bertahan hidup di tengah kerasnya Jakarta. Tiga anak yatim, yang jika ibunya mengatakan sesuatu mereka tidak pernah membantah. Seperti hari ini, hari Minggu, hujan turun di sore hari. Alvin ingin sekali mandi hujan bersama teman temannya. Sejak lima menit yang lalu, teman temannya sudah berteriak di depan rumah. “Alvin main yuk,Alvin main yuk.”Tapi tidak dibukakan pintu oleh Alvin. Di rumah ibunya sedang libur bekerja. Tidak boleh siapapun keluar rumah, kecuali disuruh ibu. Begitulah ultimatumnya. Andaikan semua anak di dunia ini penurut,bahagialah kami para orang tua.

Adik Ipar

Saya memiliki adik ipar, perempuan berusia tiga puluh tahun. Adiknya suami yang nomor dua. Sifatnya seperti angin, kadang baik kadang begitulah. Sepertinya dia selalu cemburu dengan keluarga saya. Dia selalu menganggap keluarga saya selalu diprioritaskan oleh ibu mertua.

Mungkin bisa dibilang cemburu atau iri hati. Menurut yang saya tahu cemburu atau iri hati adalah satu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki keunggulan menginginkan yang tidak dimilikinya. Suatu hari kami berkumpul di rumah ibu mertua. Adik ipar datang lebih awal. Satu jam kemudian keluarga saya baru datang. Semua menyambut gembira ketika Farzan yang lucu datang. Ibu mertua segera mencium dan menggendong Farzan.

Ekspresi wajah adik ipar langsung cemberut. Ekspresi wajahnya seperti kertas kecil yang dilipat jadi dua puluh. Pokoknya ekspresi wajahnya tidak enak dilihat. Ditambah lagi ibu mertua segera ke pasar untuk membeli ayam, daging, sayuran dan segala macam keperluan memasak. Katanya demi cucu cucunya yang akan menginap. Ibu mertua pergi ke pasar dibonceng motor salah satu ponakan. Dan ketika ibu mertua sedang di pasar, adik ipar pergi begitu saja tanpa pamit.

Mungkin dia merasa anak saya diperlakukan istimewa dan anaknya tidak. Padahal tidak seperti itu. Ibu mertua selalu berusaha adil ke semua cucunya. Ibu mertua kaget ketika pulang dari pasar si adik ipar sudah tidak ada di tempat. Lalu ibu mertua segera mengecek hp. Ternyata si adik ipar pasang status WA seperti ini:” selalu dia yang diistimewakan.”

Raut muka ibu mertua langsung bersedih. Saya gak tega melihatnya.