Akhirnya

presiden-jokowi-istana-bogor

Akhirnya hasil sementara pemilu 2019 sudah dipublikasikan. Walaupun hasilnya belum fix tapi sudah berhasil membuat saya lega. Hasil sementara berdasarkan quick count adalah Jokowi 54,45% dan Prabowo dengan angka 45,55%. Dan saya masih harus bersabar sampai tanggal 22 Mei 2019. Karena di tanggal tersebut ada keputusan resmi dari KPU.

Pemilu kali ini penuh drama,karena banyak yang meninggal dan sakit. Gimana ga sakit begadang sampai pagi menghitung surat suara. Mungkin untuk selanjutnya perlu dievaluasi mekanisme penghitungannya oleh Mendagri. Bahkan salah satu ketua KPPS berharap tanggal 17 April 2019 hujan deras tapi ternyata cuaca cerah ceria. Dan tingkat partisipasi masyarakat di pemilu 2019 mencapai angka 80%. Lumayan capek menghitung surat suaranya. Semoga kerja mereka penuh keikhlasan demi Indonesia yang lebih baik untuk 5tahun mendatang.

Untuk partai pemenang pemilu sementara dipegang PDI dengan jumlah19,7% lalu peringkat kedua partai Gerindra dengan angka 12,88%. Peringkat ketiga sipartai kuning(Golkar) dengan angka 11,86%. Untuk tahun ini PKB berhasil mengumpulkan jumlah suara sebanyak 9,19% dan PKS dengan angka 8,75%.

Foto di atas adalah laki laki kurus berjaket biru yang lahir pada tanggal 21 Juni 1961. Tanggal kelahirannya cuma beda lima hari dengan tanggal kelahiran saya. Laki laki yang mungkin akan menjadi pemenang di pemilu 2019. Laki laki yang tingkat kesabarannya mungkin hampir sama dengan seorang sufi.

Sementara di kubu 02 masih ada sosok seorang jendral gagah yang lahir pada tanggal 17 Oktober 1951. Pendukungnya tidak kalah banyak dibanding kubu Jokowi. Beliau sudah deklarasi kemenangan. Kita lihat saja hasilnya tanggal 22 Mei nanti apakah relevan dengan deklarasi kemenangan tersebut.

Pemilu kali ini pagi pagi saya sudah antri di TPS 111 dekat rumah saya. Sementara suami di rumah jaga anak saya yang kecil. Ketika saya pulang barulah gantian dia menuju ke TPS. Euforia pemilu 2019 lumayan terasa dirasakan masyarakat Indonesia. Mungkin karena baru pertama kali pilpres dan pileg digabung pelaksanaannya.

Di RT saya Jokowi sebagai pemenang dan di RT sebelah Prabowo sebagai pemenang. Tidak masalah berbeda pilihan yang penting Indonesia tetap damai. Indonesia yang tahun ini akan mencapai usia 74tahun. Indonesia yang semakin tua dan semoga saja Indonesia semakin maju. Terutama maju di bidang SDM. Jadi ga ada lagi manusia Indonesia yang buang sampah sembarangan. Dan semoga suatu saat nanti pendidikan rata rata rakyat Indonesia adalah S1.

Negara ini masih banyak kekurangan. Tapi saya terlanjur jatuh cinta dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena disinilah saya lahir dan dibesarkan. Seperti kata Agustinus Wibowo negeri seberang begitu indah,namun hanya fantasi. Fantasi tiga dimensi yang menemani mimpi mimpi sekian persen rakyat Indonesia. Fantasi orang orang yang hidup di seberang garis batas. Takdir manusia terkotak kotak dalam garis batas. Dan semoga manusia Indonesia semakin mencintai negerinya.

Iklan

Cawapres

Akhirnya resmi sudah bapak presiden Jokowi mengumumkan siapa cawapresnya untuk pemilu tahun 2019.Beliau seorang sosok relijius kelahiran 11 Maret 1943. Mantan Ketua MUI yang sangat dihormati sebagai kyai kharismatik. Pemilihan Kyai Haji Ma’ruf Amin memang sangat mengagetkan. Karena calon kuat saat itu adalah Ma’fud MD. Tapi di detik detik terakhir pengambilan keputusan Jokowi merubah keputusannya. Jokowi akan berperang di pemilu 2019. Wajar jika dia menyiapkan strategi perang demi pertempuran yang sangat sengit.

 

Jokowi yang lahir pada tanggal 21 Juni 1961 dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan jago strategi perang. Strategi untuk memenangkan pilpres 2019. Dengan terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai Cawapres diharapkan kubu sebelah tidak lagi jualan “agama”. Saya masih ingat ketika pilpres 2014 Jokowi dibantai habis habisan oleh kubu sebelah karena identitasnya. Dibilang keturunan Cina,PKI dan tidak pro terhadap dunia Islam. Padahal dari lahir Jokowi sudah Islam. Menjalankan semua ajaran Islam dengan baik.

 

Memang sosok Kyai Haji Ma’ruf Amin tidak mewakili kaum milenial. Kalau ingin berbicara mengenai kaum milenial maka sosok Sandiaga Uno sangat tepat. Sandiaga yang lahir pada tanggal 28 Juni 1969 terlihat muda,ganteng dan sangat up todate mengenai perkembangan zaman saat ini.

 

Pilpres 2019 adalah dejavu pilpres 2014. Entahlah siapa yang akan menang,kita tunggu saja. Saya berharap para pendukung di sosmed tidak terlalu panas seperti pilpres 2014. Banyak berita hoax yang tersebar saat itu. Bahkan ada pertemanan yang menjadi renggang karena beda dukungan.

 

Sebenarnya saya berharap AHY menjadi cawapres Prabowo. Tapi ternyata pengajuan nama AHY ditolak oleh PKS dan PAN. Sementara untuk pilpres 2019 Prabowo sangat sangat membutuhkan suara dari PKS dan PAN. Dipilihlah Sandiaga Uno karena beliau dari Partai Gerindra.

 

Jendral yang lahir pada tanggal 17 Oktober 1951 ini masih sangat berambisi untuk mencapai kursi RI1. Partainya pada saat Pilgub DKI Jakarta bisa memenangkan Anis-Sandi. Tapi untuk Pilpres 2019 saya tidak terlalu yakin. Kita lihat saja visi misi apa yang akan dibawa kedua paslon untuk Pilpres 2019. Semoga saja Indonesia menjadi lebih baik,amin.