Tetangga

Baiklah, saya akan cerita mengenai tetangga depan rumah. Astagfirullah, sebenarnya saya tidak ingin gibah, tapi tangan ini gatal banget pengen nulis. Tetangga depan rumah saya itu suami istri berinisial M.  Memiliki dua orang anak perempuan. Yang pertama sudah kuliah, dan yang kedua masih SMP. Rumahnya berlantai dua, bergaya klasik dan mungkin harga rumahnya sekian M.

Pada suatu malam, tepatnya malam Minggu sibapak itu kumpul bersama lima orang temannya. Kumpul di teras rumah yang tentu saja suara keras obrolan mereka terdengar di telinga.  Jam sudah menunjukkan angka setengah sebelas malam. Kemudian mereka nyanyi nyanyi sambil main gitar. Anak saya yang berumur satu setengah tahun terbangun dari tidurnya.  Ingin rasanya saya ambil batu dan lempar pagar rumahnya.  Tapi untungnya niat tersebut tidak jadi, saya masih bisa bersabar. Saya tidak tinggal di komplek perumahan yang kapanpun bisa komplain ke pak satpam atau pengelola. Mau komplain ke pak RT kayaknya beliau sudah tidur.

Saya kesal tapi segera menggendong Farzan biar dia bisa tidur lagi. Andaikan saja sibapak itu yang punya anak kecil, pasti dia juga akan komplain seperti saya.

Tadi saya cerita mengenai tetangga depan rumah. Dan sekarang saya ingin cerita mengenai tetangga tiga rumah dari rumah saya.  Suami istri yang masih muda dan memiliki satu orang anak lelaki kelas enam SD. Si suami berkaca mata dan sosok yang sabar menurut saya.  Dan si istri cantik tapi kalo lagi marah tingkahnya mirip Meriam Bellina kalo lagi berperan sebagai tokoh jahat. Suaranya tujuh oktaf ketika ngomelin anaknya, dan itu mengganggu telinga saya. Bukankah anak yang sering dibentak bentak jadi tidak percaya diri? saya kasihan sama anaknya tapi tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Sudah ya guys ada yang harus saya kerjakan.