Suatu Hari di RSUD Pasar Rebo

Bismillah,setelah hiatus lama. Pagi pagi sudah mempersiapkan diri ke rsud pasar rebo karena disana pasti antri banget. Dah sejak dua minggu yang lalu, telinga sebelah kanan bermasalah. Berasa berisik dan seperti mendengar suara detak jantung. Ditambah lagi rasa sakit nyutnyutan. Yah sudahlah terpaksa ke dokter THT. Untungnya punya BPJS,terasa banget membantu.

 

Ketemu dokter Aswaldi,Sp,THT yang ternyata pasiennya lumayan banyak. Dapat nomor antrian 45 dan duduk disamping seorang anak kecil umur 5tahun dan ibunya. Si anak itu terus minta digendong sama ibunya. Iya,digendong sambil mamanya duduk nunggu antrian. Mungkin dia lagi manja karena lagi sakit. Setengah jam nunggu akhirnya nomorku dipanggil. Ditanya keluhannya apa trus telinga sebelah kanan dimasukin alat untuk membersihkan telinga bagian dalam. Diagnosa dokter OMSK(otitis media supuratif kronik). Mungkin orang awam bilang gendang telinga berlubang. Untungnya lubang telinga cuma sedikit lubangnya.

 

Dikasih obat Tarivid ukuran 5ml. Diteteskan sehari 3kali tapi setelah lima hari pemakaian harus dihentikan. Dan dihari kelima sakit di telinga kanan sudah berhenti. Alhamdulillah. Dan suara seperti detak jantung di telinga kanan perlahan mulai hilang. Cuma saran dari dokter untuk beberapa bulan ke depan tidak diperbolehkan berenang. Oh iya,kalau mau tau lebih detail soal OMSK uraiannya seperti ini OMSK adalah peradangan telinga bagian tengah melalui perforasi membran timpani(berlubang). Dalam perjalanan penyakit ini dapat berlanjut makanya harus terus rutin konsultasi ke dokter THT.

 

Sekian dulu penjelasan dari saya dan semoga kalian selalu sehat,amin.

Iklan

Balada BPJS

Kali ini lagi pengen posting soal BPJS. Kebetulan sebulan yang lalu kakak ipar gw dirawat di salahsatu rumah sakit pemerintah di daerah Jakarta Timur. Kakak ipar gw itu sakit jantung. Dengan membawa kartu BPJS,KTP,KK dan segala macem-macem printilannya yang ribet akhirnya bisa juga dirawat dan ga pake bayar. Walaupun harus ngantri sekitar sejam untuk menunggu kepastian ada kamar atau ga.

Baru tiga hari dirawat kakak ipar gw itu minta pulang dengan alasan berisik karena ruangan di sampingnya berisik lagi renovasi. Dokter tidak mengizinkan. Pulang terpaksa dengan tandatangan di atas materai kalau terjadi sesuatu hal dokter tidakakan tanggungjawab. Baru dua hari di rumah kakak ipar gw kambuh lagi. Disinilah drama dimulai.

Karena sebelumnya kakak ipar gw pulang dengan cara “memaksakan diri” maka setelah dia masuk lagi dianggap pasien biasa dan harus bayar 5,5juta. Wakwaw…….kagetlah kakak gw sekeluarga. Gwpun jadi ikutan pusing untuk cari duit segitu banyak. Tapi akhirnya salahsatu keluarga pasien disitu kasih info ke kita kalo ada relawan di setiap rumah sakit pemerintah yang ngurusin masalah BPJS. Setelah dapet nomor kontaknya lalu janjian ketemuan. Ngobrol ngalor ngidul dia bilang “saya akan memperjuangkan,bahkan kalo mentok,kita kan ke balaikota ketemu koh ahok.”

Pada akhirnya negosiasi relawan tersebut dengan manajemen rumah sakit berhasil. Dan kita dapet gratisan lagi, alhamdulillah.

Ga beneran gratis sih,kasih duit 200ribu buat relawan itu karena buat ganti ongkos dia bolak balik ke rumah sakit dan ganti pulsa hp dia karena kita sering telpon telponan ngebahas BPJS. Oke, sekian dulu………