Review Buku:The White Masai

SSwhite masai

Sebenarnya beli buku ini dah lama banget tahun 2011. Kemaren ada kesempatan untuk bongkar buku buku lama. Akhirnya punya niat untuk bikin review buku bagus ini. Setting cerita di sebuah negara di Afrika, tepatnya Kenya. Ada beberapa kota yang disebut seperti Nairobi,Barsaloi,Maralal dan lain lain.

Kisah berawal ketika perempuan Swiss bernama Corinne Hofmann traveling ke Afrika. Ya, kisah di buku ini based on true story. Corinne ke Afrika bersama pacarnya yang bernama Marco. Baru beberapa menit mendarat di bandara Nairobi dia bertemu sekumpulan lelaki dari suku Masai. Masai adalah salahsatu suku yang cukup terkenal di Afrika. Cara berpakain mereka hampir mirip dengan orang Papua. Di Papua terkenal dengan koteka, di Kenya terkenal dengan sebutan kanga.

Diantara para lelaki Masai, Corinne berkenalan dengan Lketinga. Lelaki yang tinggi badannya hampir mencapai 190cm. Entah kenapa setelah perkenalan itu Corinne merasa tertarik. Walaupun untuk beberapa hari ke depan mereka tidak dapat bertemu karena Lketinga sibuk melakukan pertunjukan tari suku Masai untuk turis turis yang datang ke Kenya.

Melalui Edy, Corinne minta dipertemukan lagi dengan Lketinga. Edy, salah satu warganegara Kenya yang pada saat itu bahasa Inggrisnya cukup bagus. Akhirnya pertemuan kedua,ketiga dan seterusnya bisa dilakukan oleh Corinne dan Lketinga. Tentu saja pada saat bertemu, tidak ada Marco. Corinne selingkuh dengan penduduk lokal.

Tibalah saatnya pulang ke Swiss karena mereka sudah hampir satu bulan di Kenya. Tapi yang membuat Marco kaget, Corinne tidak mau diajak pulang. Bahkan yang lebih nekat lagi,Corinne mengucapkan kata putus. Walaupun kaget, Marco akhirnya terpaksa menerima keputusan tersebut.

Cerita ini akan saya singkat ke periode ketika Corinne dan Lketinga akhirnya menikah. Setelah menikah, mereka membuat manyatta baru. Manyatta adalah rumah kecil untuk suku Masai. Manyatta beralaskan tanah dan tak ada tempat tidur di dalamnya. Tidur beralaskan kulit sapi.

Corinne rela melakukan itu semua demi Lketinga. Sampai akhirnya mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Napirai. Tiga setengah tahun Corinne menjalani kehidupan pernikahannya dengan Lketinga. Dari mulai membuka toko sembako sampai toko souvenir semua dilakukan Corinne demi ekonomi rumahtangganya. Lketinga tidak bisa diandalkan karena tidak bisa baca dan berhitung.

Titik balik kemarahan Corinne ketika Lketinga menuduh Corinne berselingkuh dan Napirai bukan darah dagingnya. Selama ini Corinne yang sibuk cari uang dan Lketinga hanya bisa menghabiskan uang untuk mabuk bersama teman temannya. Ketika Lketinga memukul Corinne pada saat mereka sedang bertengkar, esoknya Corinne langsung memesan dua tiket ke Swiss, pulang kampung untuk selama lamanya. Dua tiket untuk dirinya dan Napirai.

Pokoknya buku ini sangat pantas untuk direkomendasikan. Baca yach…….

 

 

 

 

Iklan