Annida

IMG_20200609_135047

Majalah Annida di foto ini tertera tanggal 13 Februari 2002. Usianya sudah delapan belas tahun, tapi masih tampak bagus. Saya memang selalu merawat barang barang yang saya suka. Meski mungkin usianya sudah lebih dari sepuluh tahun. Majalah Aneka dan Annida menemani masa remaja saya. Dan sekarang kedua majalah itu sudah almarhum.

Majalah Annida bisa dibilang hampir sama dengan koran Republika yaitu membahas tentang dunia Islam. Tapi majalah Annida didominasi cerpen cerpen khas remaja kala itu. Harganya cuma tiga ribu lima ratus rupiah.

Pemimpin Redaksi majalah Annida kala itu Dian Yasmina Fajri. Edisi kali ini berisi cerpen antara lain :

1.Lebih Banyak Dari Pasir di Laut

2.Mesin Waktu

3.Sahabat

4.Tiara

5.Anugerah Terindah

6.Bidadari Kecil

7.Surat dari Allah

8.Suatu Siang di Khatulistiwa

Cerpen yang paling saya suka Bidadari Kecil penulisnya Nabila Azzahra bercerita tentang mahasiswi bernama Evi yang kehidupannya tersesat. Seks bebas dan narkoba yang membuat dia hamil diluar nikah. Singkat cerita Evi menggugurkan kandungannya dengan uang sebesar dua juta rupiah.

Suatu hari di pertengahan bulan Januari, Evi overdosis dan dilarikan ke rumah sakit oleh orangtuanya. Seminggu setelah keluar dari rumah sakit, Evi dipaksa orangtuanya tinggal di sebuah pesantren. Setiap hari Evi diberi jamu ramuan khas pesantren, mandi dini  hari diiringi zikir dan doa, berendam di kolam renang tertutup, dan air rebusan jahe yang diteteskan ke kedua bola mata. Perlakuan seperti itu mampu membuatnya sembuh dari ketergantungan narkoba.

Singkat cerita Evi betah tinggal di pesantren. Dan memilih mengabdikan diri sebagai guru bahasa Inggris di pesantren itu. Sampai suatu hari ada seorang ikhwan yang ingin mengajak Evi ta’aruf. Ikhwan tersebut bernama ustad Fikry dan sudah siap menerima Evi dengan segala kekurangannya, termasuk masa lalunya. Beberapa bulan kemudian mereka menikah.

Suatu hari Evi pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh suaminya. Diagnosa dokter Evi mengidap kanker leher rahim atau cerviks. Saat itu Evi sadar inilah akibat kesalahan terbesar dalam hidupnya yang pernah dibuat.

Evi terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan berwarna putih yang bersih dan sangat terang. Tubuhnya kurus kering mengenakan gamis dan jilbab putih. Evi merasa ranjang yang ditiduri berada di atas asap yang mirip segumpalan awan di langit. Evi ingin berteriak menanyakan keberadaannya, tapi tenggorokan seperti tercekat. Tak sanggup mengeluarkan suara apapun. “Assalamualaikum Ibu” seorang gadis kecil yang cantik menyapa Evi. “Wa’alaikumsalam.” Evi tersentak tapi berusaha menjawab salam sang gadis kecil.

“Maaf kau siapa? “Evi bertanya bingung.” Ibu memang belum pernah mengenalku, aku ini bidadari kecilmu. Bidadari yang kau lenyapkan tiga tahun lalu. “sahut si gadis.

” Bidadari kecilku? maksudmu janin yang kugugurkan itu? “” Ya benar, sekarang kau dapat melihat dan menyentuhku. ”

Evi terpana. Wajah bidadari kecil itu begitu mirip dengan dirinya.” Sekarang Ibu harus meminta maaf pada Allah SWT dan Allah akan memberikan kebahagiaan abadi buat Ibu “gadis kecil itu berkata lirih pada Evi. Dan pada akhirnya Evi dijemput malaikat Izrail dengan mengucapkan Laailaahailallah.

 

 

Tetangga

Baiklah, saya akan cerita mengenai tetangga depan rumah. Astagfirullah, sebenarnya saya tidak ingin gibah, tapi tangan ini gatal banget pengen nulis. Tetangga depan rumah saya itu suami istri berinisial M.  Memiliki dua orang anak perempuan. Yang pertama sudah kuliah, dan yang kedua masih SMP. Rumahnya berlantai dua, bergaya klasik dan mungkin harga rumahnya sekian M.

Pada suatu malam, tepatnya malam Minggu sibapak itu kumpul bersama lima orang temannya. Kumpul di teras rumah yang tentu saja suara keras obrolan mereka terdengar di telinga.  Jam sudah menunjukkan angka setengah sebelas malam. Kemudian mereka nyanyi nyanyi sambil main gitar. Anak saya yang berumur satu setengah tahun terbangun dari tidurnya.  Ingin rasanya saya ambil batu dan lempar pagar rumahnya.  Tapi untungnya niat tersebut tidak jadi, saya masih bisa bersabar. Saya tidak tinggal di komplek perumahan yang kapanpun bisa komplain ke pak satpam atau pengelola. Mau komplain ke pak RT kayaknya beliau sudah tidur.

Saya kesal tapi segera menggendong Farzan biar dia bisa tidur lagi. Andaikan saja sibapak itu yang punya anak kecil, pasti dia juga akan komplain seperti saya.

Tadi saya cerita mengenai tetangga depan rumah. Dan sekarang saya ingin cerita mengenai tetangga tiga rumah dari rumah saya.  Suami istri yang masih muda dan memiliki satu orang anak lelaki kelas enam SD. Si suami berkaca mata dan sosok yang sabar menurut saya.  Dan si istri cantik tapi kalo lagi marah tingkahnya mirip Meriam Bellina kalo lagi berperan sebagai tokoh jahat. Suaranya tujuh oktaf ketika ngomelin anaknya, dan itu mengganggu telinga saya. Bukankah anak yang sering dibentak bentak jadi tidak percaya diri? saya kasihan sama anaknya tapi tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Sudah ya guys ada yang harus saya kerjakan.