Ramadhan Kali Ini

Postingan ini saya tulis disaat menjelang makan sahur. Hari ini hari keempat puasa di bulan Ramadhan 2019. Mengutip surat Al Baqarah ayat 183:Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. Semoga saya dan kalian yang baca postingan ini termasuk orang orang bertakwa yang akan dimudahkan ketika akan masuk pintu surga,amin.

Ramadhan dan lebaran tahun ini tanpa sosok Mang Sidiq(adik ibu). Beliau meninggal dua bulan lalu karena sakit diabet. Karena sakit diabet yang bertahun tahun di tubuhnya dan sudah merusak fungsi ginjal. Meninggal di usia 50tahun. Mang Sidiq yang berkulit putih dan suka bicara ceplas ceplos. Mang Sidiq yang kalau ke rumah saya dari jarak sepuluh meter sebelum pintu rumah sudah terdengar assalamualaikum dengan nada yang keras. Mang Sidiq yang kalau setiap lebaran sibuk ngumpulin semua keponakan untuk bagi bagi duit. Mang Sidiq yang sering diledek “juragan sate” karena kebetulan punya lima warung sate di sekitar daerah Cijantung(Jakarta Timur).

Sejak menikah dengan istrinya yang berasal dari Madura Mang Sidiq sibuk berbisnis sate. Sate yang lumayan laku dan memiliki banyak pelanggan setia. Mang Sidiq yang biasanya beberapa hari sebelum lebaran sibuk jualan dodol Betawi. Mang Sidiq yang selalu saya hapal dengan motor bebek merahnya. Mang Sidiq yang suka bicara apa adanya kalo emang ga suka dengan seseorang tapi sebenarnya hatinya baik. Semoga beliau ditempatkan ditempat terbaik disisi Allah SWT,amin.

Agak mengerikan kalau saya membahas penyakit Diabetes Mellitus(DM). Penyakit yang sudah bertahun tahun ada di tubuh ibu saya. Karena diabet adalah ibu dari segala macam penyakit. Dari diabet bisa menyebabkan fungsi ginjal rusak,sakit jantung,paru paru,kerusakan pada mata atau seperti ibu saya pengapuran tulang kaki sebelah kanan.

Ketika gula darah ibu saya mencapai angka 550 beliau sempat dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Gejalanya lemas tak bertenaga,sering buang air kecil dan rasa haus yang terus menerus. Setiap bulan ibu saya rutin berobat ke dokter penyakit dalam(poli endokrin) sekaligus berobat ke dokter orthopedi.

Suntikan insulin sebanyak tiga kali sehari dengan dosis di angka sepuluh cukuplah membuat ibu saya dikategorikan penyandang penyakit akut.

Bedanya dulu Mang Sidiq rajin berobat ke pengobatan alternatif sementara ibu saya rajin berobat ke dokter spesialis dengan kartu BPJS. Saya tidak ingin menyalahkan pengobatan alternatif,tapi alangkah bijak jika kita lebih mengutamakan medis kedokteran. Karena ilmu medis kedokteran bersifat ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan untuk kesembuhan pasien.

Di ramadhan kali ini saya selalu berdoa semoga ibu sehat selalu. Dan semoga saya dijauhkan dari segala macam penyakit terutama sakit Diabetes Mellitus(DM). Ramadhan kali ini saya belajar lagi tentang arti kehilangan. Arti kehilangan yang membuat saya semakin ingat tentang kematian. Ramadhan kali ini semoga saya bisa melaluinya dengan baik,amin.