Untuk Seseorang Yang Pernah Melahirkanku

Kita memang tidak pernah terlalu dekat Bu,bahkan kita jarang curhat satu sama lain. Bahkan ketika Bapak meninggal,aku lebih sering curhat ke Kakak. Kita dua pribadi yang sangat sangat berbeda. Ibu yang ekstrovert dan aku yang introvert. Ibu yang cerewet dan aku yang pendiam. Ibu yang supel dan aku yang susah akrab dengan orang baru.

 

Kenapa aku tulis ini Bu?karena hari ini adalah hari Ibu. Terimakasih sudah melahirkanku dan membesarkanku. Sekarang aku mengerti bagaimana susahnya menjadi seorang Ibu. Bagaimana susahnya menyuruh Jasmine belajar,bagaimana susahnya menyuruh Jasmine mengaji,bagaimana susahnya mengajarkan nilai nilai kebaikan di dalam hidup. Semua seperti dejavu,cuma bedanya kalau dulu kakiku disabet pake sapu lidi karena bolos mengaji,sekarang Jasmine yang harus dihukum karena bolos mengaji.

 

Tapi aku tidak ingin menerapkan hukuman fisik Bu. Itu akan meninggalkan jejak di hati. Bahkan sampai kini aku bisa mendeskripsikan dengan jelas bagaimana sakitnya sapu lidi menghajar kaki,jeweran di kuping dan suara keras ketika aku malas belajar. Cukup tidak usah dikasih uang jajan,tidak diperbolehkan pegang hp ketika aku menghukum Jasmine.

 

Ibu mungkin ga tau,setiap malam aku menangis sebelum tidur berharap dikasih mimpi sama Tuhan. Ya,mimpi yang sederhana bertemu almarhum Bapak. Untung saja kejadian tersebut hanya beberapa bulan. Entahlah kenapa seratus persen sifat Bapak ada di diriku,sehingga ketika Bapak meninggal aku seperti kehilangan arah. Limbung. Dari Ibu aku hanya mewarisi kulit putihnya.

 

Aku tahu Bu,sebesar apapun aku ingin membalas jasamu itu tidak akan pernah bisa. Dari almarhum Bapak aku tahu dulu Ibu hampir meninggal ketika melahirkanku. Perdarahan. Kasus ibu melahirkan yang menyeramkan buatku. Untungnya nyawa Ibu masih bisa diselamatkan,padahal sempat tidak sadarkan diri selama beberapa jam.

 

Aku selalu sayang Ibu,tapi dengan cara yang berbeda. Bukan dengan memberikan bunga atau ucapan “I love you.” Cukup menyebut namamu disetiap doaku dan transferan tiap bulan yang jumlahnya ala kadarnya. Maaf Bu,aku bukan tipe orang yang ekspresif. Jadi daripada aku bilang i love you Bu,lebih baik aku bikin tulisan ini.

 

Terimakasih Bu,sudah membesarkan empat orang anak perempuan di keluarga ini. Meskipun aku bontot,tolong jangan perlakukan aku seperti anak kecil lagi Bu. Aku sudah menikah dan memiliki anak,tapi mungkin saking sayangnya Ibu padaku Ibu masih menganggap aku gadis kecilnya. Dimasakin apapun yang aku suka,dibikinin kue yang aku suka,bahkan untuk mengambil keputusan penting sekalipun kadang Ibu masih sangsi padaku. Pliss Bu,aku sudah besar,jangan memperlakukanku seperti anak kecil lagi.

 

Ibu juga jangan bandel ya,karena sakit Diabet tidak akan bisa sembuh,itu kata dokter. Yang bisa dilakukan adalah menjaga pola makan supaya gula darah stabil. Aku tahu Ibu suka ngumpet makan yang manis manis. Hati hati Bu,nanti diomelin pak dokter. Sudah yah Bu,tulisannya sampai sini saja. Aku selalu sayang Ibu,setiap selesai sholat aku pasti mendoakan Ibu. Semoga Ibu sehat selalu.